Momen membahagiakan dalam hidupku

Kalau mengingat-ingat masa kehamilan, rasanya saya jadi pengen hamil lagi. Apalagi di momen-momen tersebut suami menunjukkan perlindungan lebih kepada saya,hehe. Waktu itu, empat tahun yang lalu ketika pertama kali saya sadar bahwa saya terlambat datang bulan, saya segera ke apotek mencari test pack untuk memastikan. Dan surprise…Alhamdulillah, 4 bulan kami menikah saya hamil. Suami juga tak kalah senangnya waktu beliau tahu saya hamil. Kami datangi bidan praktek yang dekat dengan rumah kami. Bidan mulai menghitung kehamilan saya dan memberitahu bahwa kehamilan saya waktu itu berumur 6 minggu.

Selama hamil, saya lebih banyak membaca buku-buku dan artikel di internet mengenai kehamilan dan tumbuh kembang anak serta mengunduh aplikasi terkait kehamilan agar bisa mengetahui tumbuh kembang adek bayi di perut. Tak lupa suami memenuhi kebutuhan saya dan adek bayi dengan membeli tablet asam folat dan susu hamil. Tak lupa kami sempatkan mengecek perkembangan si kakak melalui USG ke dokter kandungan tiap bulan.

Di awal kehamilan berat tubuh saya sempat turun beberapa saat dikarenakan nafsu makan turun. Meskipun gampang sekali lapar tapi ada rasa khawatir karena merasa mual ketika makan, Akhirnya saya menyiasatinya dengan makan sedikit dan sering serta disarankan membawa cemilan sehat seperti buah atau biscuit susu ketika pergi mengajar. Pada saat hamil seperti ini suami jadi lbih protektif kepada saya.

Di kehamilan 9 bulan, suami sering menemani saya jalan-jalan karena begitu berharap bahwa si kakak bisa lahir melalui proses persalinan normal. Namun ternyata bidan yang tahu riwayat kecelakaan yang saya alami ketika kuliah akhirnya merujuk saya ke dokter untuk mengetahui lebih jauh tentang kehamilan saya. Karena tahu kalau panggul saya tak simetris dan karena ada beberapa alasan medis maka akhirnya dokter menyarankan saya menempuh operasi Caesar. Pada kunjungan minggu ke 38 meskipun belum merasakan kontraksi saya diminta rawat inap agar bisa diobservasi. Saya dan suami akhirnya sepakat dengan keputusan dokter dan malam sehari sebelum lebaran si kakak lahir dengan selamat dengan berat 3 kg dan panjang 50 cm. Ada rasa bahagia bercampur haru ketika si kakak lahir ke dunia karena tantangan baru sebagai orangtua segera dimulai.

Dari hari ke hari si kakak tumbuh dengan baik sesuai dengan tahap perkembangan anak yang ada di milestone. Demi kebutuhan gizi dan psikologisnya maka saya memberikannya ASI eksklusif selama 6 bulan. Saya juga menstimulasi tumbuh kembangnya dengan memberi pijatan sedikitnya seminggu sekali dan senam bayi tiap hari. Efeknya si kakak jarang sakit dan lebih percaya diri ketika bertemu dengan orang banyak. Saya juga belajar bagaimana menyiapkan makanan pendamping ASI buat si kakak yang diawali dengan sayur-sayuran kemudian buah-buahan yang dicampur dengan ASI dan berlanjut ke MPASI dengan tekstur yang lebih padat dan dan lebih lengkap dengan tidak memberikan garam dan gula sebelum usia setahun.

Test-2.png
sumber : http : //round.glass/blossom/wp-content/uploads/sites/6/2017/09/test-2.png

Sempat ada tetangga yang mencibir waktu si kakak saya buatkan MPASI dari buah yang saya campur ASI. Apa doyan? Apa aman? Dan lain sebagainya. Tapi saya tepis perasaan tak nyaman saya, yang penting kakak sehat dan kebutuhan gizinya terpenuhi. Aneh juga ada yang mencibir saya ketika memberikan MPASI buatan sendiri. Padahal makanan bayi instan yang mahal sekalipun belum tentu bisa memenuhi kebutuhan gizinya dan belum tentu terserap dengan baik oleh tubuh.

Selain kebutuhan fisik, saya penuhi kebutuhan psikologisnya dengan memberikan kasih sayang dan pelukan setiap hari karena saya yakin dengan semakin sering dipeluk si kakak semakin punya ketahanan tubuh yang baik terhadap sakit, dan Alhamdulillah si kakak jarang sakit. Bahkan kakak sudah mampu berjalan dan berbicara dengan kosakata yang cukup banyak untuk anak seusianya. Bahkan beberapa sering mengira kakak sudah berusia 4 tahun karena tubuhnya yang tinggi dan bicaranya yang sudah lancar.

Banyak yang mengira bahwa anak yang kurus berarti kurang gizi, padahal pemahaman ini belum tentu benar.Anak yang kurus tapi tetapi gesit, berbadan tegap dan ceria menandakan dia sehat. Tapi kita perlu waspada jika badannya yang kurus juga diikuti dengan pertumbuhan badannya yang tidak sesuai dengan anak seusianya, sebab bisa jadi dia terkena stunting. Anak yang tubuhnya lebih kecil dari standar usianya dan disebabkan karena tidak terserapnya gizi yang ia terima dengan baik dinamakan stunting. Stunting bisa dialami anak usia 0 hingga 3 tahun yang disebabkan oleh banyak faktor. Misal dikarenakan cacingan akibat sanitasi di rumah yang kurang baik dan tak pernah mengkonsumsi obat cacing, atau karena pola asuh dan asupan yang diberikan belum memenuhi gizi seimbang. Jika stunting tidak cepat ditangani, tentu efeknya akan menghambat daya berpikir dan kemampuan fisiknya. Kasihan jika anak sering sakit dan tidak bisa beraktivitas banyak dikarenakan pola makan dan pola asuh yang salah dari orangtuanya.

Stunting_di_Indonesia_2018.jpg

sumber : grafis.tempo.co/read/1250/prevalensi-penyebab-dan-pencegahan-stunting-di-indonesia-2018

 

Solusi agar anak tidak stunting adalah kegigihan ibu dan peran serta keluarga dalam mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tumbuh kembang anak dan menerapkan pola asuh yang benar. Disini peran dan tanggung jawab menyelamatkan generasi anak Indonesia menjadi tugas kita bersama. Dengan memperbaiki pola asuh, menjaga kebersihan lingkungan serta menunjang gizi seimbang keluarga berarti kita ikut menyelamatkan sebuah generasi.

Iklan