Inner Child, Yang belum tuntas dalam mendidik Anak

Ketika mendapat materi Inner Child atau bahasa lainya Ghost Parenting, rasanya saya merasa tertampar. Saya sadar, sebenarnya ada rasa “belum ikhlas” atas perlakuan orangtua kepada saya di masa-masa saya masih serumah. Baik ketika masih kecil hingga saya menginjak dewasa, banyak sekali kenangan buruk justru terekam dalam memori padahal saya sudah berusaha memaafkan dan ridho atas segala yang terjadi. Toh, ini semua karena kekurangan ilmu yang mereka miliki dalam mendidik saya waktu kecil dan karena saya juga anak sulung yang harusnya memang banyak memahami kelelahan orangtua dalam membagi waktunya dalam bekerja, membiayai saudara orangtua yang masih sekolah dan segala tanggungan yang ditopang, juga masih merawat adek saya. Dan diatas semua itu segala kejadian yang kita alami juga merupakan ujian yang harus saya hadapi untuk naik tingkat di hadapan Allah.

Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepad hatinya. Allahlah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (QS At Taghaabun 11)

Kadang tanpa disadari, saya terlalu memaksa si kakak melakukan segala yang melebihi jangkauan usianya. Tanpa disadari saya juga sering memarahi dan akhirnya berujung penyesalan, kenapa saya lakukan ini?

Well, semua harus berhenti disini, semua luka yang saya alami tak perlu berlanjut ke kakak. Cukup sampai disini dan saatnya saya berjuang mengatasi segala luka dan berusaha membesarkan anak-anak dengan perasaan bahagia sehingga merekapun bahagia dibesarkan dan dididik oleh kita. Saatnya bangkit!!

Bagi yang belum paham tentang Inner Child, Dalam materi Bunda Sayang dan Matrikulasi Institut Ibu Profesional, Inner Child merupakan Pengalaman masa lalu yang belum tuntas, belum terselesaikan dengan baik yang akhirnya mempengaruhi pola perilaku kita terhadap lingkungan, kebiasaaan, sikap dan emosi kita ketika menghadapi suatu keadaan.

20181113_142132_0001.png

Saatnya Berbenah!!

Lalu, ketika kita sadar ada inner child dalam diri kita yang belum tuntas, maka bagaimana sebaiknya langkah kita? Sayapun mencoba hal-hal berikut :

  1. Mengingat-ingat kembali apa yang membuat kita masih punya ganjalan di masa lalu, jujur sejujur-jujurnya dengan hati lapang. Karena ini akan mempermudah penyembuhan
  2. Berkomunikasi dengan diri kita tentang yang kita rasakan agar mampu memaafkan
  3. Mengingat kenangan indah di waktu kecil. Bukankah justru kenangan positif kita lebih banyak ketimbang pengalaman negatif kita?
  4. Mengidentifikasi jenis Inner Child dalam diri kita, pemarah, murung, ketakutan atau ceria
  5. Mencari penyembuhan dengan menulis diary atau terapi bicara dengan menganggap diri kita sebagai pengasuh di masa sekarang yang sedang berkomunikasi dengan diri kita di masa lampau. Jikapun ingin menangis, lepaskan..agar diri menjadi lebih tenang
  6. Memaafkan dan menulis jurnal syukur. Menempel tulisan “SAYA ADALAH ORANG PALING BERUNTUNG DI DUNIA” di tempat yang sering kita lalui atau kita gunakan, misal meja kerja, kulkas, dll
  7. Berterimakasih terhadap diri sndiri atas pencapaian yang kita peroleh.

Semoga hal-hal diatas bisa mengurangi beban yang kita bawa di masa lampau ya gengs !

Sumber : Institut Ibu Profesional

Momen membahagiakan dalam hidupku

Kalau mengingat-ingat masa kehamilan, rasanya saya jadi pengen hamil lagi. Apalagi di momen-momen tersebut suami menunjukkan perlindungan lebih kepada saya,hehe. Waktu itu, empat tahun yang lalu ketika pertama kali saya sadar bahwa saya terlambat datang bulan, saya segera ke apotek mencari test pack untuk memastikan. Dan surprise…Alhamdulillah, 4 bulan kami menikah saya hamil. Suami juga tak kalah senangnya waktu beliau tahu saya hamil. Kami datangi bidan praktek yang dekat dengan rumah kami. Bidan mulai menghitung kehamilan saya dan memberitahu bahwa kehamilan saya waktu itu berumur 6 minggu.

Selama hamil, saya lebih banyak membaca buku-buku dan artikel di internet mengenai kehamilan dan tumbuh kembang anak serta mengunduh aplikasi terkait kehamilan agar bisa mengetahui tumbuh kembang adek bayi di perut. Tak lupa suami memenuhi kebutuhan saya dan adek bayi dengan membeli tablet asam folat dan susu hamil. Tak lupa kami sempatkan mengecek perkembangan si kakak melalui USG ke dokter kandungan tiap bulan.

Di awal kehamilan berat tubuh saya sempat turun beberapa saat dikarenakan nafsu makan turun. Meskipun gampang sekali lapar tapi ada rasa khawatir karena merasa mual ketika makan, Akhirnya saya menyiasatinya dengan makan sedikit dan sering serta disarankan membawa cemilan sehat seperti buah atau biscuit susu ketika pergi mengajar. Pada saat hamil seperti ini suami jadi lbih protektif kepada saya.

Di kehamilan 9 bulan, suami sering menemani saya jalan-jalan karena begitu berharap bahwa si kakak bisa lahir melalui proses persalinan normal. Namun ternyata bidan yang tahu riwayat kecelakaan yang saya alami ketika kuliah akhirnya merujuk saya ke dokter untuk mengetahui lebih jauh tentang kehamilan saya. Karena tahu kalau panggul saya tak simetris dan karena ada beberapa alasan medis maka akhirnya dokter menyarankan saya menempuh operasi Caesar. Pada kunjungan minggu ke 38 meskipun belum merasakan kontraksi saya diminta rawat inap agar bisa diobservasi. Saya dan suami akhirnya sepakat dengan keputusan dokter dan malam sehari sebelum lebaran si kakak lahir dengan selamat dengan berat 3 kg dan panjang 50 cm. Ada rasa bahagia bercampur haru ketika si kakak lahir ke dunia karena tantangan baru sebagai orangtua segera dimulai.

Dari hari ke hari si kakak tumbuh dengan baik sesuai dengan tahap perkembangan anak yang ada di milestone. Demi kebutuhan gizi dan psikologisnya maka saya memberikannya ASI eksklusif selama 6 bulan. Saya juga menstimulasi tumbuh kembangnya dengan memberi pijatan sedikitnya seminggu sekali dan senam bayi tiap hari. Efeknya si kakak jarang sakit dan lebih percaya diri ketika bertemu dengan orang banyak. Saya juga belajar bagaimana menyiapkan makanan pendamping ASI buat si kakak yang diawali dengan sayur-sayuran kemudian buah-buahan yang dicampur dengan ASI dan berlanjut ke MPASI dengan tekstur yang lebih padat dan dan lebih lengkap dengan tidak memberikan garam dan gula sebelum usia setahun.

Test-2.png
sumber : http : //round.glass/blossom/wp-content/uploads/sites/6/2017/09/test-2.png

Sempat ada tetangga yang mencibir waktu si kakak saya buatkan MPASI dari buah yang saya campur ASI. Apa doyan? Apa aman? Dan lain sebagainya. Tapi saya tepis perasaan tak nyaman saya, yang penting kakak sehat dan kebutuhan gizinya terpenuhi. Aneh juga ada yang mencibir saya ketika memberikan MPASI buatan sendiri. Padahal makanan bayi instan yang mahal sekalipun belum tentu bisa memenuhi kebutuhan gizinya dan belum tentu terserap dengan baik oleh tubuh.

Selain kebutuhan fisik, saya penuhi kebutuhan psikologisnya dengan memberikan kasih sayang dan pelukan setiap hari karena saya yakin dengan semakin sering dipeluk si kakak semakin punya ketahanan tubuh yang baik terhadap sakit, dan Alhamdulillah si kakak jarang sakit. Bahkan kakak sudah mampu berjalan dan berbicara dengan kosakata yang cukup banyak untuk anak seusianya. Bahkan beberapa sering mengira kakak sudah berusia 4 tahun karena tubuhnya yang tinggi dan bicaranya yang sudah lancar.

Banyak yang mengira bahwa anak yang kurus berarti kurang gizi, padahal pemahaman ini belum tentu benar.Anak yang kurus tapi tetapi gesit, berbadan tegap dan ceria menandakan dia sehat. Tapi kita perlu waspada jika badannya yang kurus juga diikuti dengan pertumbuhan badannya yang tidak sesuai dengan anak seusianya, sebab bisa jadi dia terkena stunting. Anak yang tubuhnya lebih kecil dari standar usianya dan disebabkan karena tidak terserapnya gizi yang ia terima dengan baik dinamakan stunting. Stunting bisa dialami anak usia 0 hingga 3 tahun yang disebabkan oleh banyak faktor. Misal dikarenakan cacingan akibat sanitasi di rumah yang kurang baik dan tak pernah mengkonsumsi obat cacing, atau karena pola asuh dan asupan yang diberikan belum memenuhi gizi seimbang. Jika stunting tidak cepat ditangani, tentu efeknya akan menghambat daya berpikir dan kemampuan fisiknya. Kasihan jika anak sering sakit dan tidak bisa beraktivitas banyak dikarenakan pola makan dan pola asuh yang salah dari orangtuanya.

Stunting_di_Indonesia_2018.jpg

sumber : grafis.tempo.co/read/1250/prevalensi-penyebab-dan-pencegahan-stunting-di-indonesia-2018

 

Solusi agar anak tidak stunting adalah kegigihan ibu dan peran serta keluarga dalam mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tumbuh kembang anak dan menerapkan pola asuh yang benar. Disini peran dan tanggung jawab menyelamatkan generasi anak Indonesia menjadi tugas kita bersama. Dengan memperbaiki pola asuh, menjaga kebersihan lingkungan serta menunjang gizi seimbang keluarga berarti kita ikut menyelamatkan sebuah generasi.

Menjadi Ibu juga harus profesional

Saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa online bunda sayang batch #4, di awal matrikulasi dulu saya mendapat materi tentang “Ibu Profesional Kebanggan Keluarga”. Dari sini jadi berfikir bahwa mendidik anak dan merawat cinta suami ternyata tidak bisa mengalir begitu saja. Ada ilmu yang harus dipelajari. Jadi inget quote  “Al Ummu Madrosatul ‘Ula.. bahwa ibu itu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Nah dari situ kita sadar karena anak mendapat pendidikan pertama kali dari ibu, maka perlu ilmu untuk menjadi orangtua yang baik dan benar. Padahal selama ini, ilmu tersebut tidak diajarkan di sekolah. Lalu apa yang harus kita lakukan? . Bagaimana memulainya?

Di perkuliahan waktu itu, dijelaskan bagaimana dan apa saja yang dipelajari ketika mengikuti Komunitas Ibu Profesional. Dari Tahapan Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan yang terakhir Bunda Saleha.

Untuk menjadi ibu profesional, diperlukan ilmu dan Kerja nyata. di Nice Home Work waktu itu kita ditantang membuat Checklist Profesionalisme Perempuan dan disitu kita diminta mnanyakan ke suami dan anak tentang apa yang sebenarnya membuat mereka bahagia serta checklist indikator yang kita buat sendiri. Ternyata keinginan mereka tak banyak dan tak muluk-muluk. Cukup menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga.  Namun satu kalimat itu pasti mengandung banyak makna tentunya. dan perlu belajar serta latihan yang tidak singkat dan harus disertai komitmen, kesabaran dan konsisten untuk melakukannya.